Apa yang bisa saya tangkap dari pembahaan Ibu
Saras Dewi tentang “Agama dan Filsafat” adalah : Agama bersumber dari kepatuhan
seseorang terhadap apa yang dia yakini kebenarannya. Sedangkan ilmu filsafat
adalah sebuah ilmu yang didasari oleh akal pemikiran manusia.
Agama dan filsafat berakar dari dua hal yang
sangat berbeda. Dimana agama berakar dari keyakinan sedangkan filsafat berasal
dari pemikiran. Kedua hal ini kemudian menjadi dua hal yang mungkin agak susah
untuk dipadukan.
Saya sendiri beranggapan bahwa agama dan
filsafat haruslah berjalan beriringan. Apa yang saya yakini adalah dalam
beragama kita haruslah memakai akal dan nalar kita, karena bila kita terlalu
terpaku pada agama maka kita akan menjadi seseorang yang terlalu fanatis dan
tertinggal. Dalam agama yang saya anut, kita hanya diajarkan untuk mengikuti
ibadah (ritual) yang telah dicontohkan oleh utusan Tuhan (nabi). Sedangkan
untuk urusan duniawi yang berhubungan dengan filsafat atau daya fikir otak,
kita dibebaskan untuk berkreasi selama itu tidak dilarang oleh nilai-nilai yang
ada pada agama.
Sedangkan kita juga harus mengakui bahwa akal
yang kita miliki juga mempunyai keterbatasan. Kita tidak bisa memikirkan apapun
dengan otak kita yang sangat terbatas kemampuannya. Sebagai orang biasa yang
bayak salah, kita harus sadar bahwa kalau hanya mengandalkan daya fikir otak
tentunya akan banayak sekali kesalahan yang mungkin terjadi. Maka dari itu,
kita mutlak memerlukan agama (kepercayaan) yang didasari atas adanya Tuhan sebagai
referensi saat akal rasional kita sudah mencapai batasnya.
Tuhan, yang menurut saya adalah sesuatu yang
ada sebelum yang lain ada. Sesuatu yang membut semuanya menjadi ada. Mungkin
memang hal yang abstrak untuk dinilai secara ilmiah. Namun kita juga mengakui
bahwa metode ilmiah tidak bisa menjelaskan apapun. Berdasar dari hal itu, saya
meyakini bahwa semua ini ada yang menciptakan. Saya tidak percaya Darwin, sebagai seorang
muslim saya lebih percaya Muhammad. Saya meyakini bahwa dari tempat Tuhan kita
berasal dan kepada Tuhan kita akan kembali. Seperti nyawa kita ini, sebuah hal
yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, namun itu ada. Tuhan bukanlah sesuatu
yang harus dijelaskan secara ilmiah, namun cukup dengan diyakini.
Akhirnya saya simpulkan bahwa antara agama dan
filsafat merupakan sebuah kesatuan yang saling mengisi. Karenanya, kita harus
terbuka terhadap keduanya untuk menjadi manusia yang ber-akal dan ber-agama.
Semoga apa yang saya dapat hari ini dapat
membimbing saya untuk menjadi guru yang lebih baik. Amin,
By :
Bima Fajri Zulfikar Ipmawan
2011110018


