Pages

Wednesday, November 28, 2012

Agama dan Filsafat



Apa yang bisa saya tangkap dari pembahaan Ibu Saras Dewi tentang “Agama dan Filsafat” adalah : Agama bersumber dari kepatuhan seseorang terhadap apa yang dia yakini kebenarannya. Sedangkan ilmu filsafat adalah sebuah ilmu yang didasari oleh akal pemikiran manusia.
Agama dan filsafat berakar dari dua hal yang sangat berbeda. Dimana agama berakar dari keyakinan sedangkan filsafat berasal dari pemikiran. Kedua hal ini kemudian menjadi dua hal yang mungkin agak susah untuk dipadukan.
Saya sendiri beranggapan bahwa agama dan filsafat haruslah berjalan beriringan. Apa yang saya yakini adalah dalam beragama kita haruslah memakai akal dan nalar kita, karena bila kita terlalu terpaku pada agama maka kita akan menjadi seseorang yang terlalu fanatis dan tertinggal. Dalam agama yang saya anut, kita hanya diajarkan untuk mengikuti ibadah (ritual) yang telah dicontohkan oleh utusan Tuhan (nabi). Sedangkan untuk urusan duniawi yang berhubungan dengan filsafat atau daya fikir otak, kita dibebaskan untuk berkreasi selama itu tidak dilarang oleh nilai-nilai yang ada pada agama.
Sedangkan kita juga harus mengakui bahwa akal yang kita miliki juga mempunyai keterbatasan. Kita tidak bisa memikirkan apapun dengan otak kita yang sangat terbatas kemampuannya. Sebagai orang biasa yang bayak salah, kita harus sadar bahwa kalau hanya mengandalkan daya fikir otak tentunya akan banayak sekali kesalahan yang mungkin terjadi. Maka dari itu, kita mutlak memerlukan agama (kepercayaan) yang didasari atas adanya Tuhan sebagai referensi saat akal rasional kita sudah mencapai batasnya.
Tuhan, yang menurut saya adalah sesuatu yang ada sebelum yang lain ada. Sesuatu yang membut semuanya menjadi ada. Mungkin memang hal yang abstrak untuk dinilai secara ilmiah. Namun kita juga mengakui bahwa metode ilmiah tidak bisa menjelaskan apapun. Berdasar dari hal itu, saya meyakini bahwa semua ini ada yang menciptakan.  Saya tidak percaya Darwin, sebagai seorang muslim saya lebih percaya Muhammad. Saya meyakini bahwa dari tempat Tuhan kita berasal dan kepada Tuhan kita akan kembali. Seperti nyawa kita ini, sebuah hal yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, namun itu ada. Tuhan bukanlah sesuatu yang harus dijelaskan secara ilmiah, namun cukup dengan diyakini.
Akhirnya saya simpulkan bahwa antara agama dan filsafat merupakan sebuah kesatuan yang saling mengisi. Karenanya, kita harus terbuka terhadap keduanya untuk menjadi manusia yang ber-akal dan ber-agama.
Semoga apa yang saya dapat hari ini dapat membimbing saya untuk menjadi guru yang lebih baik. Amin,
                                                                                                                                                      

By :
Bima Fajri Zulfikar Ipmawan
2011110018

Saka Wanabakti Blora

Saka Wanabakti Blora