Saya cukup prihatin
dengan tingkat kedisiplinan bangsa Indonesia. Lupakan untuk merubah generasi
tua yang notabene sudah tidak bisa kita rubah lagi. Yang bisa kita
lakukan adalah memulai untuk membiasakan gerakan disiplin di tingkat calon
penerus bangsa Indoenesia. Namun, gerakan itu nampaknya tidak akan
berjalan dengan mulus. Karena, apa yang saya lihat saat ini justru sebaliknya.
Gerakan “telat” malah dilegalkan!!! Aneh to?
Lah loh, kok bisa?
Toleransi ketelatan.
Yah, mosok telat kok ditoleransi? Itulah pertanyaan kecil
saya. Saya tahu bahwa semua orang mempunyai kesibukan masing-masing. Namun,
saya merasa sebagai mahasiswa kita haruslah menjadi mahasiswa yang tidak
telat-an. Bukankah tujuan utama kita sebagai mahasiswa adalah belajar?
Seharusnya kita bisa mengatur waktu kita agar tidak telat. Dan toleransi
ketelatan itu bukanlah alat yang mendidik untuk membentuk karakter disiplin
bagi generasi penerus bangsa.
Kalau ada bom waktu,
apakah ada toleransi ketelatan tim gegana? Kalau ada Ibu melahirkan, apakah ada
toleransi ketelatan bidan?
Haha, Jepang, toleransi
ketelatannya minus 15 menit. Artinya, 15 menit sebelum acara mereka sudah hadir.
Bagaiman dengan Indonesia?
Semoga Indonesia tambah
maju. Amin,

0 comments:
Post a Comment