Pages

Monday, October 13, 2014

Sekolah Sebelum ke Sekolah

Waktunya menarikan jari. :D

Suasana di Sekolah Dasar
Oke langsung saja, hari ini kita akan membahas tentang isu kekerasan anak yang lagi jadi trending topic  Indonesia setelah sekelompok anak SD “menghajar” temannya dikelas dan videonya tersebar di Internet. Hal ini menyedihkan dan memalukan menurut saya. Sebab, kejadian ini terjadi di sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman mereka untuk belajar. Bukan berarti ini hal yang wajar kalau terjadi di luar sekolah, namun setidaknya di sekolah ada guru-guru yang mengawasi mereka.


Saya bukan kriminolog dan ahli psikologi anak. Karenanya, ide saya di tulisan ini bukan tentang bagaimana menghukum pelaku video ini. Namun tulisan ini akan lebih kepada tindakan preventif untuk mecegah kejadian ini terulang kembali. Dan tentunya hal ini akan banyak sekali caranya. Tetapi, saya lebih memilih peran Ibu sebagai hal yang pokok dalam upaya pencegahan tindakan memalukan macam hal ini.

Ibu. Yup, satu kata itu begitu penting dalam perjalanan hidup kita. Eh, bentar-bentar, ini bukan renungan malam loh ya, ini Cuma ide tentang bagaimana . . . yah, yang diatas itulah!

Pendidikan pertama seorang anak adalah Ibu. Entah Ibu asuh atau Ibu kandung (baiknya sih Ibu kandung), merupakan awal dimana kita belajar sesuatu. Mulai dari sara makan, pip, pup, menyapa seseorang, berterimakasih dan nilai-nilai lain yang sangat penting bagi perkembangan jiwa social anak. Karenanya, seorang Ibu sangatleh penting dalam fase ini. Semoga sih, Ibu dari anak-anak saya besok orangnya baik, kalau bisa yang cantik. Hahaha,

Sayangya, Ibu jaman sekarang banyak yang bekerja sehingga melupakan tuganya sebagai sekolah pertama bagi buah hatinya. Bukan saya melarang seorang Ibu untuk bekerja, namun hendaknya pekerjaannya jangan sampai membuatnya lupa akan tuganya sebagai seorang Ibu. Memang banyak tempat penitipan anak, terutama di kota besar. Akan tetapi, kualitasnya, perhatiannya, kasih sayangnya, dan cintanya tak akan sama seperti Ibu. Karenaya, sesibuk apapun Ibu, hendaknya jangan sampai melupakan perkembangan buah hatinya. Eits, bukan Cuma perkembangan fisik loh ya! Sikap dan tata krama anak juga penting unutk diperhatikan.

Lah kalo bapak? Saudara? Ya penting juga keleus, maksud “Ibu” disini bukan hanya Ibu yang melahirkan. Tetapi juga keluarga. Namun, tentunya Ibu (yang melahirkan)lah yang punya peranan terbesar (menurut saya).


Mungkin tulisan ini hanya berbicara tentang peran Ibu. Namun, menurut saya Ibu-lah yang menjadi pemegang kunci agar kejadian kekerasan pada anak tidak terulang kembali. Yup, Ibu memang menjadi sekolah pertama bagi anak, bahkan sebelum anak itu lahir dan beliaulah salah satu kunci utama pencegahan perilaku jahat anak-anak. Semoga anak-anak Indonesia tumbuh menjadi anak anak yang tahu moral dan etika. Amin,

Saturday, October 11, 2014

Karir dan Mie Instan

Coba sebutkan hal-hal instan dalam kehidupan anda dalam waktu 1 menit!

Jawaban saya:
1. Mie instan
2. Kopi sachet
3. Sarden
4. SMS, chatting (sosial media)

Sudah, itu saja yang dapat saya jawab dalam waktu kurang lebih 1 menit saya berfikir dibantu teman disebelah, Syafril Utomo. Saya yakin mungkin aakan sangat banyak hal-hal lain yang istan di dunia ini. Namun yang pasti, karir bukanlah salah satunya. Yah, itulah salah satu hasil seminar hari ini dikampus. Seminar tentang bagaimana mengembangkan karir setelah lulus kuliah. Banyak sekali hal yang saya dapat hari ini di seminar. Namun, sebuah hal ini menarik saya unutk membuat tulisannya.

Cita-cita saya, menjadi RI-1, memang sangat tinggi. Meskipun begitu, bermimpi tinggi bukanlah sebuah hal yang salah di negara ini. Sejarah juga sudah membuktikan bahwa tukang ojek payung waktu kecil, bisa menjadi Presiden saat ia besar nanti. Tentu saja itu bukanlah suatu perjalanan semalam yang akan terlaksana begitu saja. Butuh sebuah proses panjang bagi beliau untuk (akan, kan beliau belum dilantik) menjadi RI-1. Namun, dari kesemuanya yang saya lihat adalah prestasi beliau yang menjadikan beliau naik kelas menjadi orang yang mempunyai jabatan lebih tinggi. 

Sahabat saya yang lain, sebut saja Imam, pernah berujar kepada saya. Lakukanlah pekerjaan mu dengan ikhlas, sebaik-baiknya, pada suatu hari kau akan melihat hasilnya. Memang, kita tidak bisa melihatnya secara langsung. Ini seperti proses bertani, dari mulai kita mencangkul ladang, menanam benih, menyirami, memberi pupuk dan pestisida dan memanen. Kesemuanya harus dilakukan dengan sebaik-baiknya agar mendapatkan hasil yang terbaik. Satu tahap saja kita tidak sungguh-sungguh, maka panen yang kita lakukan tidak akan maksimal, atau, kita bahkan tidak panen sama sekali.

Karenanya, mimpi boleh tinggi, dan usaha yang kita lakukan juga harus maksimal untuk membuat mimpi itu nyata. . .  

Jangan Diam dan Mendiamkan, Kawan!

Berbicara tentang politik kekinian, Tentunya menjadi sebuah hal yang sulit memposisikan diri sebagai penilai yang subyektif, Dikarenakan kondisi politik Indonesia yang sekarang ini yang menjadikan kita terkotak menjadi dua kubu, Jokowi atau Prabowo.

Dua kubu ini tetunya bukanlah kubu yang semuanya benar, sehingga harus kita perjuangkan sampai menjadikan kita bermusuhan satu sama lain. Kubu Jokowi mengingkari janjinya teantang Kabinet Profesional tanpa syarat, yang pada akhirnya dilanggar olehnya seiring waktu berjalan dan itu menyakiti hati sebagian pendukungnya terdahulu kala pilpres. Termasuk saia.

Kubu yang satu, adalah kubu yang saya tidak sukai dari awal. Mengusung simbol-simbol negara sebagai kepentingan politik adalah awal dari ketidaksukaan saya terhadap kubu ini. Ditambah lagi dengan masa kampanye yang menunjukkan kubu ini minim prestasi dan haus kekuasaan. Strategi kampanye dengan menjatuhkan dengan membabi-buta lawan tanpa menunjukkan prestasi sendiri sudah menjadi bukti shahih atas pernyataan saya. Dan pada akhirnya, kerakusan mereka akan kekuasaan semakin terlihat pada proses politik di parlemen akhir-akhir ini. Nggak banget deh, , , 

Pada akhirnya, kita sebagai masyarakatlah yang harus mengawasi mereka. Mereka yang mengelola pajak yang kita bayarkan setiap hari. Tidak harus dengan berdemo setiap hari menyarakan suara kita. Yang paling penting adalah tindakan kita yang menunjukkan bahwa kita peduli, melihat dan mengawasi mereka setiap hari. Boleh melalui media sosial, atau yang lein yang bia membantu kita menujjukkan bahwa kita mengawasi mereka. Jangan jadi orang pasif dalam berpolitik. Politik itu tidak kotor, dia buruk karena orang-orang baik membiarkan orang jahat menjadikan politik terlihat kotor (Baswedan, 2014). Jangan diam dan mendiamkan, kawan!

Thursday, October 2, 2014

Membatik Hati, Cintai Budaya Negeri Sendiri

Haduh, sedang sibuk skripsi sebenarnya. Namun tak apalah, bisa dihitung sebagai jam istirahat. . . :D

Sok mari dimulai. . . 

Hari ini, hampir semua teman sekelas memakai pakaian batik. Kecuali satu, Syafril Utomo, entah gugup atau tidak peduli dia memakai baju kotak-kotak (ala Jokowi) hari ini, Yup, hari ini memang hari batik nasional, 2 Oktober adalah hari ditetapkannya batik sebagai salah satu warisan budaya dunia dari Indonesia. Duh, bangganya memakai batik. . .

Memang, batik menjadi tren yang tak pernah padam di Indonesia. Motifnyapun beragam, saya ndak hafal! Dari batik yang terkenal macam batik Pekalongan, Solo, Jogja, Bali, dan lainnya, banyak juga motif yang kurang beken yang umumnya setiap daerah punyai. Bahkan, batik sempat jadi komoditas politik ketika pak Hidayat maju di DKI 1 pada 2012. Tapi, waktu itu beliau kalah oleh pak Jokowi yang pada akhirnya menjadi RI 1 sekarang ini. Eits, jangan bahas politik lagi yah!!!

Mempunyai batik memang membanggakan. Namun, kenyataannya banyak sekali kebudayaan kita yang belum diakui dunia dan terancam diambil oleh negara sebelah (who must not be named). Karenanya, banyak sekali tugas kita, sebagai penerus bangsa, untuk melestarikan budaya masing-masing.

Kenapa budaya masing-masing? Memang hal ini terkesan individualis, dan memang seperti itu. Tapi, mengingat Indonesia adalah perbedaan yang disatukan oleh pancasila, Tentunya bukanlah hal yang buruk jika kita mencoba melestarikan budaya daerah sendiri namun dengan tetap menghormati budaya lain.

Hal inti dari tulisan (yang mungkin gak berguna ini) adalah, mari kita sama-sama menjaga kebudayaan kita. Dimulai dengan kebudayaan suku kita masing-masing. Jadikan momentum hari batik ini sebagai momentum untuk menjaga Indonesia dengan segala keragamannya dan buktikan pada dunia bahwa dengan keragaman itu pula, kita mampu beersatu dan membangun bangsa yang lebih maju.

#LoveIndonesia

Saka Wanabakti Blora

Saka Wanabakti Blora