Tulisan ini didasari oleh kegerahan saya terhadap tingkah polah sebagian "Wakil Rakyat" di lembaga legislatif masing-masing (DPR, DPRD). Bagaimana tidak, wakil rakyat yang suka korupsi, suka bolos, suka video porno, suka tidur disaat rapat, suka plesiran pakai uang negara, suka fasilitas negara yang berlebihan yang tak pantas didapat jika melihat kondisi rakyat yang mereka wakili.
Fakta ini ditambah kenyataan bahwa sistem Presidensial dengan sistem multi partai membuat politik di Indonesia cenderung transaksional. Hal ini membuat kursi wakil rakyat terbelah menjadi dua golongan besar yaitu kursi pendukung pemerintah dan kursi oposisi. Golongan-golongan ini membuat "wakil rakyat" tidak dapat bersuara sesuai kata hatinya, para "wakil rakyat" akan dipaksa unutk bersuara berdasarkan kebijakan partainya. Inilah yang mendasari saya untuk menyebutkan bahwa orang-orang yang duduk di kursi legislatif bukanlah "wakil rakyat" melainkan "wakil partai". Penyebutan ini didasari fakta bahwa mereka bersuara bukan berdasarkan kata hati, melainkan berdasar pada kehendak partai dimana mereka bernaung.
![]() |
| Gambar : www.wawanlistyawan.com |
Karenanya, diperlukan sebuah sistem dimana anggota legislatif haruslah netral dan benar-benar bersuara rakyat dan bukan suara partai yang penuh dengan kepentingan politis dan pencitraan. Mungkin saja harus ada peraturan dimana semua anggota harus netral dan lepas dari partai. :D Semoga Indonesia menjadi lebih baik, Amin,,,


0 comments:
Post a Comment